Soal Kardiologi kedokteran Unhas

1. Ligamentum arteriousum botalli menghubungkan :
A. Aorta ascendens dengan r. sinester a. pulmunalis
B. Arcus aorta dengan r. dexter a. pulmonalis
C. Arcus aorta dengan r. sinister a. pulmonalis
D. Aorta ascendens dengan r.sinister a. pulmonalis
E. Aorta arcendeds dengan r.dexter a. pulmonalis
2. Sinus coronarium menerima darah dari vena di bawah ini , keculai :
A. V .cordis anterior
B. V .cordis magna
C. V .cordis media
D. V .posterior ventriculi sinister
E. V .cordis parva
3. Reisleitung system yang terdapat dalam subendokardial ventrikal adalah:
A. SA node (KF)
B. AV node (T)
C. Berkas His
D. Serat Purkinye
E. Sel Purkinye
4. Pembuluh darah yang memiliki otot polos yang putus-putus dalam dindingnya adalah :
A. Kapiler
B. Prekapiler
C. Artiriole
D. Arteri type muskuler
E. Arteri type elastika
5. Yang benar tentang aksi potensial pada jantung adalah :
A. Terjadi lebih cepat dibanding pada otot rangka
B. Terjadi lebih lama dibanding pada otot saraf
C. Sama pada semua bagian jantung
D. Terjadi bersamaan dengan siklus jantung
E. Semua diatas salah
6. Perlambatan penghantaran konduksi terjadi pada :
A. NSA
B. NAV
C. Traktis interdonal
D. Berkas his
E. Serabut Purkinye
7. Yang termasuk siklus jantung adalah :
A. Fase pengisian
B. Fase kontraksi isovolumetrik
C. Fase ejeksi
D. Fase relaksasi isovolumetrik
E. Semua diatas benar
8. Yang sesuai dengan fase kontraksi isovolumetrik adalah :
A. Tertutupnya katup mitral dan trikuspidal
B. Volume ventrikal tidak berubah
C. Katup aorta dan pulmonalis masih tertutup
D. Pada EKG terbentuk kompleks QRS
E. Semua diatas benar
9. Aliran limfer terjadi akibat peranan :
A. Kontraksi otot
B. Lymfagogues
C. Tekanan intrathoraks negatif
D. Katup saluran limfe
E. Semua diatas benar
10. Pusat pengaturan system sirkulasi terdapat pada :
A. Hipotalamus
B. Medulla spinalis
C. Hippocampus
D. Medulla oblongata
E. Serebellum
11. Baroreseptor dijumpai pada :
A. Aorta
B. Arteri karotis
C. Jantung
D. Pembuluh darah besar
E. Semua diatas benar
12. Regulasi system sirkulasi diperankan oleh :
A. Regulasi saraf
B. Regulasi local
C. Regulasi humoral
D. Regulasi ginjal
E. Semua diatas benar
13. Energi otot jantung terutama diperoleh melalui proses :
A. Fosforilasi keratin
B. Hidrolisis ATP
C. Hidrolisis siklik AMP
D. Fosforilasi oksidatif
E. Defosforilasi keratin
14. Energi otot jantung berguna untuk :
A. Menggerakan serat aktin terhadap myosin
B. Memompa ion kalsium kembali masuk ke dalam retikulum endoplasmic
C. Relaksasi otot
D. A dan B benar
E. A,B dan C benar
15. Rheumatic heart diseases ada hubungannya dengan bagian bakteri di bawah ini :
A. Toksin kardiohepatik streptococcus viridans
B. Antigen membrane sel streptococcus pyogenes
C. Antigen MOP dari clamydia pneumoniae
D. Semua diatas benar
E. Semua diatas salah
16. Cara terbaik untuk identifikasi Chlamydia sebagai penyebab infeksi ialah :
A. Preperat langsung dengan pewarnaan Gram
B. Biakan jaringan
C. Deteksi antigen dari reticulate body
D. Deteksi antigen MOMP
E. Semua diatas salah
17. Penilaian Cor analysa meliputi :
A. Paru
B. Jantung
C. Dinding thoraks
D. Vaskuler paru
E. Semua diatas benar
18. Kelainan jantung dengan vaskuler paru bertambah di temukan pada :
A. Left to right shunt
B. Ebstein’s anomaly
C. Tetralogy of fallot
D. Pulmonal stenosis
E. HHD
19. Gambaran radiologis Mitral stenosis adalah:
A. Cardiac index > 50%,LAH & RVH
B. Cardiac index 50%, aorta knop besar, LAH & LVH
C. Cardiac index < 50%, aorta knop normal, vaskuler paru bertambah, LAH&RVH D. Cardiac index > 50%, aorta knop kecil, conus pulmonalis menonjol, LAH & RVH serta vaskiler paru bertambah
E. Semua diatas salah
20. Indikasi venografi, antara lain :
A. Dugaan deep vein thrombosis
B. Phlebolith
C. Hemangioma
D. CCF
E. B & C
21. Embolisasi dilakukan pada keadaan :
A. Stenosis a. femoralis
B. Oklusi arteri
C. AVM
D. Hepatoma
E. C & D
22. Angioplasty artinya :
A. Penutupan hubungan arteri dan vena
B. Nama lainnya adalah ballooning
C. Pelebaran stenosis dengan balon
D. B & C
E. Semua diatas benar
23. Stenting artinya :
A. Pemasangan stent pada arteri yang sudah dilebarkan dengan balon
B. Penutupan arteri dengan embolan
C. Pemasangan balon pada aretri
D. A & C
E. Semua diatas benar
24. The murmur presented in aortic insufficiency is :
A. Austin flint murmur
B. To and fro murmur
C. Mid diastolic murmur
D. Pan systolic murmur
E. Pistol shot sound
25. Which statement is correct for aortic stenosis:
A. The classical symptoms are angina pectoris, syncope, and heart failure
B. The prognosis of this disease is usually good
C. Reduction of after load by vasodilator drugs is therapy of choice
D. This disease is more frequent is females
E. All correct
26. Which of the following statements regarding mitral stenosis (MS) is true :
A. Predominant cause of MS is rheumatic fever
B. The symptoms occur if the mitral valve orifice is reduced to less then 2 cm
C. In severe cases, the ECG may show right ventricular hypertrophy
D. MS should be differential diagnosis with aortic regurgitation
E. All correct
27. The sound of mitral stenosis are :
A. The loud first heart sound
B. The opening snap
C. The mid-diastolic murmur
D. The increased pulmonary component of the second heart sound
E. All correct
28. The common mechanism of supraventricular tachycardia is :
A. Enhanced automaticity
B. Triggered automatycity
C. Reentry
D. AV-block
E. Delayed after depolarization
29. Which statements is correct for premature ventricular complexes (PVCs) :
A. Most common arrythmia in otherwise normal patients
B. Increased prevalence with older age
C. Caffeine and tea can precipitate PVCs
D. They appear is wide, bizarre QRS complexes on ECG
E. All correct
30. Yang benar untuk atrium fibrillasi adalah :
A. Sering ditemukan pada orang muda
B. Denyut jantung irreguler
C. Ditimbulkan oleh mekanisme enhanced automaticity
D. Kontra indikasi dengan pemberian digoxin
E. Semua diatas benar
31. Pada gambaran EKG tidak ditemukan gelombang P, denyut jantung 160 x permenit ,reguler, kompleks QRS normal, maka diagnosisnya adalah :
A. Fibrilasi atrium dengan respon ventrikal cepat
B. Takikardia supraventrimkuler
C. Takikerdia ventrikal
D. Semua benar
E. Semua salah
32. Digoxin enhances myocardial contractility primarily by :
A. Activation of beta receptors
B. Opening of calcium channels
C. Stimulation of myosin ATP-ase
D. Inhibition of membrane Na-K-ATP-ase
E. Activating the membranes sodium channels
33. Seorang lelaki 70 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan lemas. Ada riwayat presinkop dan sinkop sebelumnya. Pada EKG nampak sinus bradikardia dengan laju jantung 36x/menit dan ada old inferior myocardial infarction. Tekanan darah 100/60 mmHg. Obat yang diberikan adalah sulfas altropine IV dengan dosis :
A. 0,25 mg
B. 0,50 mg
C. 1 mg
D. 2 mg
E. semua diatas salah
34. Farmakoterapi yang dapat di gunakan untuk takikardia supraventrikuler adalah :
A. Digoxin
B. Propranolol
C. Verapamil
D. Amiodaron
E. Semua diatas benar
35. Propranolol adalah beta-blocker non-seletif yang dapat digunakan sebagai :
A. Anti hipertensi
B. Anti angina
C. Anti takikardia
D. Semua diatas benar
E. Semua diatas salah
36. Pada penderita hipertensi yang juga menderita hipertrofi prostate, maka obat anti hipertansi terbaik yang dapat diberikan adalah :
A. Acebutolol
B. Captopril
C. Hidroklorotiazide
D. Prazosin
E. Reserpin
37. Yang benar untuk klonidin adalah :
A. Golongan anti-adrenergik
B. Anti hipertensif yang potent
C. Dapat diberikan perolal
D. Mengaktifkan mekanisme umpan baik negatif pada ujung saraf simpatis
E. Semua diatas benar
38. Which anti-hypertensive agent is preferred in pregnancy :
A. Atenolol
B. Methyldopa
C. Lisinopril
D. Hydralazine
E. Furosemide
39. Angiostensin converting enzyme (ACE) inhibitors may cause :
A. Cough
B. Increased lipid level
C. Hypokalemia
D. Glucose intolerance
E. All correct
40. Beta-blockers is the first choise in hipertensive patients with :
1. Hear failure
2. Coronary artery disease
3. Hear block diabetes mellitus
4. All correct
41. Conduction system cordis terdiri dari :
1. Nodus sino atrialis
2. Nodus atrioventrikularis
3. Fasciculus atrioventricularis
4. Moderator band
42. Cabang arteri koronaria dextra :
1. r. transverses
2. r. margnalis
3. r. descendens posterior
4. r. circumflexus
43. Sifat-sifat dari pembuluh darah vena adalah :
1. Oksigen tinggi dalam lumen
2. Dindingnya kolaps bila meninggal
3. Mengandung otot polos dalam dindingnya
4. Mempunyai membrana elastika interna
44. Struktur yang terdapat dalam lapisan endokardium atrium adlah :
1. Sel-sel lemak
2. Alastico musculair
3. Vasa vasorum
4. Endotel
45. Radikal bebas super oksida merusak sel miokard melalui cara :
1. Pemutusan rantai DNA
2. Peroksidasi lipid
3. Oksidasi gugus SH dalam protein
4. Inhibisi superhoksida dismutase
46. Keadaan yang ditimbulkan akibat pergeseran metabolisme aerob ke anaerob pada penderita eskemia miokard adalah :
1. Sintesis TP yang menurun
2. Osmolaritas intrasel yang menurun
3. Deplesi depot adenin nukleotida
4. Ph sel oto jantung meningkat
47. Bahan-bahan sumber penghasil energi untuk fumgsi jantung berasal dari :
1. Asam lemak bebas
2. Benda keton
3. Glukosa
4. Protein
48. Hal-hal dibawah ini yang ada hubungannya dengan chlamydia penumoniae :
1. Hanya dapat berkembang biak intraseluler
2. Bentuk ekkstraseluler disebut inclusion body
3. Dapat menyebabkan penyakit jantung koroner
4. Inclusion bodynya berbentuk bulat
49. Endothelial dysfunction can be the result of :
1. Hypertension
2. Dyslipidemia
3. Diabetes
4. Obesity
50. The following condition are more close to unstable plaque of atherosclerosis :
1. Lots of collagen type IV
2. Increase MMP
3. Increase indothelial nitric oxide
4. More macrophages
51. Dalam menangani penderita hipertensi, tes elektrolit (Na & K ) diperlukan untuk :
1. Hasil tes Na penting untuk mengatur asupan garam (natrium)
2. Hasil tes Na penting untuk menentukan perlutidaknya tes aldosteron
3. Hasil tes K penting untuk melihat adanya gangguan adrenal
4. Hasil tes K penting untuk mengoreksi kadar rennim
52. Penderita dengan atherosclerosis berisiko terhadap PJK jika tes laboratorium menunjukkan :
1. Kadar kolesterol total 190mg/dL
2. Kadar HDL < 45 mg/dL 3. Kadar tigriliserida 150 mg/dL 4. Rasio kolesterol/HDL > 6
53. Penderita dirawat dengan gagal jantung bendungan, komplikasi hati di curigai bila tes laboratorium menunjukkan :
1. Isoenzim LDH5 meninggi
2. Fosfatase alkali meninggi
3. Bilirubin meninggi
4. LED meninggi
54. Tes ASTO bagi penderita jantung rematik bermakna untuk :
1. Memntau perlangsungan penyakit
2. Membuktikan bahwa infeksi sedang berlangsung
3. Memantau hasil pengobatan
4. Menyatakan adnya proses imflamasi
55. Factor penyebab penyakit jantung di dapat ialah :
1. Genetic
2. Lingkungan
3. Genetic-lingkungan
4. Antigenetik similarity
56. Yang dapat menjadi komplikasi penyakit jantung didapat ialah :
1. SBE
2. Gagal jantung
3. Tamponade jantung
4. Trnsposisi pembuluh darah besar
57. From the following list select the chest X-ray findings of acquired heart disease :
1. boot shaped heart
2. Water-bottle appearance
3. Like an egg on its side
4. Enlargement of left atrial appendage
58. Which of the following are recognized presentation of congenital heart disease :
1. Clubbing fingers
2. Intracardial cyanosis
3. Left chest deformity
4. Pulmonary cyanosis
59. Echocardiography confirms the diagnosis of :
1. VSD
2. Pericardial effusion
3. TOF
4. Anemic heart disease
60. Pengobatan dietetic payah jantung :
1. Pembatasan natrium merupakan salah satu cara yang penting
2. Perlu diperhatikan kehilangan K jika diberikan diuretika dan /atau digitalis
3. Perlu diperhatikan kehilangan Mg jika diberikan diuretika dan/atau digitalis
4. Perlu diperhatikan kehilangan Zn jika diberikan diuretika dan/atau digitalis
61. Syarat-syarat diit pada penyakit jantung :
1. Energi rendah, terutama pada penderita yang terlalu gemuk
2. Protein dan lemak sedang
3. Cukup vitamin dan mineral
4. Rendah garam bila ada udem
62. Diit jantung I :
1. Diberikan kepada penderita dengan infark miokard akut
2. Makanan ini sangat rendah energi (835 Cal)
3. Diberikan kepada penderita infark, dengan gagal jantung kongesti berat
4. Diberikan sebagai makanan perpindahan dari diit jantung III
63. Makanan yang tidak boleh diberikan pada diit jantung :
1. Sayuran yang menimbulkan gas seperti kol, sawi, lobak
2. Minuman yang mengandung soda dan alcohol
3. Kopi
4. Daging berlemak
64. Atreptococcus viridans tidak bias menyebabkan endokarditis akut
SEBAB
Streptococcus viridan tidak mempunyai pili
65. The condition endothelial stimulation often require hours and days to response
BECAUSE
Endothelial stimulation needs protein s ynthesis
66. Diabetic patients tend to develop earlier and more progressive atherosclerosis
BECAUSE
In diabetic patient there is often increase of oxidized LDL
67. The healed portion of the heart after infraction is often strong and elastic
BECAUSE
The major components of healed portion of the heart in elastin
68. Hipertensi merupakan tanda khas pada koarktatio aorta postduktal
SEBAB
Sirkulasi kolateral terdapat pada korktatio aorta
69. Penderita PS dan VSD jarang mengalami gagal jantung
SEBAB
Sianosis perifer dapat ditemukan pada penderita PS dan VSD
70. Indomethazine tidak diberikan pada bayi cukup bulan dengan PDA
SEBAB
Prostaglandin dapat menyebabkan duktus botalli menutup
71. Kadar ASTO dipakai untuk menunjang diagnosis demam rematik
SEBAB
Kadar asto yang meningkat merupakan salah satu criteria mayor dari Jones
72. Penyakit anemia berat dapat menyebabkan miokarditis
SEBAB
Kadar enzim jantung yang meningkat terdapat pada miokarditis
73. Aneurisma aorta dissecans merupakan suatu kegawatan darurat
SEBAB
Terapi disseksi aorta umumnya harus dilakukan tindakan operasi
74. Pengertian pencegahan primordial sama dengan pengertian pencegahan primer
SEBAB
Baik pencegahan primordial maupun pencegahan primer keduanya dapat mencegah kejadian penyakit kardiovaskuler
75. Scratchy sound in pericardial friction rubs can be hear for along duration
BECAUSE
Pericardial friction rubs may be heard in spite of the presence of pericardial effusion

Posted in Soal-Soal | Tagged , , , , , | Leave a comment

Batu Saluran Kemih

Di Indonesia penyakit batu saluran kemih masih menempati porsi terbesar dari jumlah pasien di klinik urologi. Insidensi dan prevalensi yang pasti dari penyakit ini di Indonesia belum dapat ditetapkan secara pasti.

Dari data dalam negeri yang pernah dipublikasi didapatkan peningkatan jumlah penderita batu ginjal yang mendapat tindakan di RSUPN-Cipto Mangunkusumo dari tahun ke tahun mulai 182 pasien pada tahun 1997 menjadi 847 pasien pada tahun 2002, peningkatan ini sebagian besar disebabkan mulai tersedianya alat pemecah batu ginjal non-invasif ESWL (Extracorporeal shock wave lithotripsy) yang secara total mencakup 86% dari seluruh tindakan (ESWL, PCNL, dan operasi terbuka).(1)

Dari data di luar negeri didapatkan bahwa resiko pembentukan batu sepanjang hidup (life time risk) dilaporkan berkisar 5-10% (EAU Guidelines). Laki-laki lebih sering dibandingkan wanita (kira-kira 3:1) dengan puncak insidensi antara dekade keempat dan kelima, hal ini kurang lebih sesuai dengan yang ditemukan di RSUPN-CM.(1)

Kekambuhan pembentukan batu merupakan masalah yang sering muncul pada semua jenis batu dan oleh karena itu menjadi bagian penting perawatan medis pada pasien dengan batu saluran kemih.

Dengan perkembangan teknologi kedokteran terdapat banyak pilihan tindakan yang tersedia untuk pasien, namun pilihan ini dapat juga terbatas karena adanya variabilitas dalam ketersediaan sarana di masing-masing rumah sakit maupun daerah. Oleh karena itu sudah dianggap semestinya bahwa terdapat suatu Clinical Practice Guideline/Pedoman Penatalaksanaan Klinik (PPK) mengenai penatalaksanaan penyakit batu saluran kemih, yang dapat menjadi acuan yang praktis bagi sejawat spesialis urologi yang berpraktek di Indonesia. Untuk itu Ikatan Ahli Urologi Indonesia membentuk sebuah panel khusus yang menyusun PPK ini.

Tujuan disusunnya PPK ini adalah agar menjadi acuan bagi praktik urologi di Indonesia yang diharapkan membawa praktik urologi di Indonesia menjadi praktik urologi yang sedapat mungkin berlandaskan bukti yang sahih (Evidence Based Medicine (EBM)).

Metodologi

PPK batu saluran kemih (PPK-BSK) ini, selanjutnya disebut ‘guidelines’ disusun oleh suatu tim panelis yang dibentuk oleh PP-IAUI dan melaksanakan beberapa kali pertemuan yang dimulai sejak tgl. 26 November 2005. Penyusunan ‘guidelines’ ini berdasarkan beberapa Guidelines yang ada di tingkat internasional (EAU dan AUA) ditambah dengan data yang ada di tingkat Nasional (terutama yang sudah dipublikasi di majalah ilmiah kedokteran nasional yang sudah terakreditasi oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional RI) bila dianggap memungkinkan. Umumnya tim penyusun guidelines di tingkat internasional sudah melakukan penelusuran literatur yang ekstensif dan telah menyaripatikannya dalam bentuk rekomendasi-rekomendasi. Oleh karena itu tugas tim panelis ‘guidelines’ adalah melakukan penilaian terhadap guidelines yang sudah ada dan menilai kecocokannya dengan kondisi di tanah air dengan mempertimbangkan ketersediaan dan distribusi alat, prasarana, sarana & kemampuan spesialis urologi dalam melakukan modalitas terapi yang ada.

Hasil rumusan “guidelines’ ini dicapai melalui konsensus dan diformulasikan dalam berbagai tingkatan sesuai urutan rekomendasi.

Persetujuan Tindakan Kedokteran/Medik (informed consent)

            Pada setiap melakukan tindakan medik pasien harus diberitahu mengenai semua modalitas terapi yang ada meskipun tidak tersedia di fasilitas pelayanan kesehatan yang bersangkutan. Harus dijelaskan mengenai diagnosis, sifat dan tujuan tindakan yang ditawarkan, keuntungan dan risiko setiap tindakan (keluaran [treatment outcomes] yang diharapkan [sebaiknya dengan persentase keberhasilan], dan komplikasi yang mungkin terjadi baik jangka panjang maupun jangka pendek), alternatif lainnya (observasi, medikamentosa, non-invasif, minimal invasif dan operasi terbuka) beserta keuntungan dan risiko masing-masing. Selain itu juga harus dijelaskan keuntungan dan risiko bila pasien tidak menerima tindakan medik. Sebaliknya pasien juga perlu mendapat kesempatan untuk bertanya agar lebih mengerti lagi mengenai sifat dari tindakan medik yang ditawarkan sehingga dapat memutuskan untuk menerima atau menolak tindakan medik yang ditawarkan.(2;3)

Kepustakaan

(1)   Rahardjo D, Hamid R. Perkembangan penatalaksanaan batu ginjal di RSCM tahun 1997-2002. J I Bedah Indones 2004; 32(2):58-63.

(2)   American Medical Association. Informed consent. http://www.ama-assn.org/ama/pub/category/4608.html . 7-3-2005.
Ref Type: Electronic Citation

(3)   Presiden Republik Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 116. 6-10-2004.
Ref Type: Bill/Resolution

DIAGNOSIS

 

 

ANAMNESIS

Pasien dengan BSK mempunyai keluhan yang bervariasi mulai dari tanpa keluhan, sakit pinggang ringan sampai dengan kolik, disuria, hematuria, retensio urin, anuria. Keluhan ini dapat disertai dengan penyulit berupa demam, tanda-tanda gagal ginjal.

PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan fisik pasien dengan BSK dapat bervariasi mulai tanpa kelainan fisik sampai tanda-tanda sakit berat tergantung pada letak batu dan penyulit yang ditimbulkan.

Pemeriksaan fisik umum : hipertensi, febris, anemia, syok

Pemeriksan fisik khusus urologi

  • Sudut kosto vertebra : nyeri tekan , nyeri ketok, pembesaran ginjal
  • Supra simfisis : nyeri tekan, teraba batu, buli-buli penuh
  • Genitalia eksterna : teraba batu di uretra
  • Colok dubur : teraba batu pada buli-buli (palpasi bimanual)

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Pemeriksaan urin rutin untuk melihat eritrosituri, lekosituria, bakteriuria (nitrit), pH urin dan kultur urin. Pemeriksaan darah berupa hemoglobin, lekosit, ureum dan kreatinin.

PENCITRAAN

Diagnosis klinis sebaiknya didukung oleh prosedur pencitraan yang tepat.

Pemeriksaan rutin meliputi  foto polos perut (KUB) dengan pemeriksaan ultrasonografi atau intravenous pyelography (IVP) atau spiral CT.1,2,3 Pemeriksaan IVP tidak boleh dilakukan pada pasien-pasien berikut :

  • Dengan alergi kontras media
  • Dengan level kreatinin serum  > 200μmol/L (>2mg/dl)
  • Dalam pengobatan metformin
  • Dengan myelomatosis

Pemeriksaan khusus yang dapat dilakukan meliputi :

  • Retrograde atau antegrade pyelography
  • Scintigraphy

Daftar Pustaka :

  1. Mendelson RM, Arnold-Reed DE, Kuan M, Wedderburn AW, Anderson JE, Sweetman G, et al. Renal colic : a prospective evaluation of non-enhanced spiral CT versus intravenous pyelography. Australasian Radiology 2003; 47: 22 – 8.
  2. Homer JA, Davies-Paine DL, Peddinti BS. Randomized prospecive comparison of non-contrast enhanced helical computed tomography and intravenous urography in the diagnosis of acute ureteric colic. Australasian Radiology 2001; 45: 285 – 90.
  3. Grenwell TJ, Woodhams S, Denton ERM, MacKenzie A, Rankin SC, Popert R. One year’s clinical experience with unenhanced spiral computed tomography for the assessment of acute loin pain suggestive of renal colic. BJU Int 2000; 85 (6): 632 – 6.

BATU URETER

 

Latar Belakang

            Batu ureter pada umumnya adalah batu yang terbentuk di dalam sistim kalik ginjal, yang turun ke ureter. Terdapat tiga penyempitan sepanjang ureter yang biasanya menjadi tempat berhentinya batu yang turun dari kalik yaitu ureteropelvic junction (UPJ), persilangan ureter dengan vasa iliaka, dan muara ureter di dinding buli.

            Komposisi batu ureter sama dengan komposisi batu saluran kencing pada umumnya yaitu sebagian besar terdiri dari garam kalsium, seperti kalsium oksalat monohidrat dan kalsium oksalat dihidrat. Sedang sebagian kecil terdiri dari batu asam urat, batu struvit dan batu sistin.

            Beberapa faktor yang mempengaruhi penanganan batu ureter antara lain letak batu, ukuran batu, adanya komplikasi ( obstruksi, infeksi, gangguan fungsi ginjal ) dan komposisi batu. Hal ini yang akan menentukan macam penanganan yang kita putuskan.  Misalnya cukup di lakukan observasi, menunggu batu keluar spontan, atau melakukan intervensi aktif.

            Dahulu sebelum alat-alat minimal invasif berkembang, untuk keperluan penanganan batu ureter, ureter dibagi menjadi 3 bagian. Yaitu ureter proksimal (dari UPJ sampai bagian atas sakrum), ureter tengah (bagian atas sakrum sampai pelvic brim) dan ureter distal (dari pelvic brim  sampai muara ureter). Hal ini berkaitan dengan teknik pembedahan (insisi). Namun dengan berkembangnya terapi minimal invasif untuk batu ureter, maka saat ini untuk keperluan alternatif terapi, ureter dibagi 2 saja yaitu proksimal (di atas pelvic brim) dan distal (di bawah pelvic brim).

            Batu ureter dengan ukuran < 4 mm, biasanya cukup kecil untuk bisa keluar spontan. Karena itu ukuran batu juga menentukan alternatif terapi yang akan kita pilih. Komposisi batu menentukan pilihan terapi karena batu dengan komposisi tertentu mempunyai derajat kekerasaan tertentu pula, misalnya batu kalsium oksolat monohidrat dan sistin adalah batu yang keras, sedang batu  kalsium oksolat dihidrat biasanya kurang keras dan mudah pecah.

Adanya komplikasi obstruksi dan atau infeksi juga menjadi pertimbangan dalam penentuan alternatif terapi batu ureter. Tidak saja mengenai waktu kapan kita melakukan tindakan aktif, tapi juga menjadi pertimbangan dalam memilih jenis tindakan yang akan kita lakukan.

Secara garis besar terdapat beberapa alternatif penanganan batu ureter yaitu observasi, SWL, URS, PNL, dan bedah terbuka. Ada juga alternatif lain yang jarang dilakukan yaitu laparoskopi dan ekstraksi batu ureter tanpa tuntunan (“blind basketing”).

Terapi konservatif

Sebagian besar batu ureter mempunyai diameter < 5 mm. Seperti disebutkan sebelumnya, batu ureter < 5 mm bisa keluar spontan. Karena itu dimungkinkan untuk pilihan terapi konservatif berupa :

  1. Minum sehingga diuresis 2 liter/ hari
  2. α – blocker
  3. NSAID

Batas lama terapi konservatif adalah 6 minggu. Di samping ukuran batu syarat lain untuk observasi adalah berat ringannya keluhan pasien, ada tidaknya infeksi dan obstruksi. Adanya kolik berulang atau ISK menyebabkan observasi bukan merupakan pilihan. Begitu juga dengan adanya obstruksi, apalagi pada pasien-pasien tertentu (misalnya ginjal tunggal, ginjal trasplan dan penurunan fungsi ginjal ) tidak ada toleransi terhadap obstruksi. Pasien seperti ini harus segera dilakukan intervensi.

 

Shock Wave Lithotripsy ( SWL )

            SWL banyak digunakan dalam penanganan batu saluran kencing. Prinsip dari SWL adalah memecah batu saluran kencing dengan menggunakan gelombang kejut yang dihasilkan oleh mesin dari luar tubuh. Gelombang kejut yang dihasilkan oleh mesin di luar tubuh dapat difokuskan ke arah batu dengan berbagai cara. Sesampainya di batu, gelombang kejut tadi akan melepas energinya. Diperlukan beberapa ribu kali gelombang kejut untuk memecah batu hingga menjadi pecahan-pecahan kecil, agar supaya bisa keluar bersama kencing tanpa menimbulkan sakit.

            Berbagai tipe mesin SWL bisa didapatkan saat ini. Walau prinsip kerjanya semua sama, terdapat perbedaan yang nyata antara mesin generasi lama dan baru, dalam terapi batu ureter. Pada generasi baru titik fokusnya lebih sempit dan sudah dilengkapi dengan flouroskopi, sehingga memudahkan dalam pengaturan target/posisi tembak untuk batu ureter. Hal ini yang tidak terdapat pada mesin generasi lama, sehingga pemanfaatannya untuk terapi batu ureter sangat terbatas. Meskipun demikian mesin generasi baru ini juga punya kelemahan yaitu kekuatan tembaknya tidak sekuat yang lama, sehingga untuk batu yang keras perlu beberapa kali tindakan.

            Komplikasi SWL untuk terapi batu ureter hampir tidak ada. Tetapi SWL mempunyai beberapa keterbatasan, antara lain bila batunya keras ( misalnya kalsium oksalat monohidrat ) sulit pecah dan perlu beberapa kali tindakan. Juga pada orang gemuk mungkin akan kesulitan. Penggunaan SWL untuk terapi batu ureter distal pada wanita dan anak-anak juga harus dipertimbangkan dengan serius. Sebab ada kemungkinan terjadi kerusakan pada ovarium. Meskipun belum ada data yang valid, untuk wanita di bawah 40 tahun sebaiknya diinformasikan sejelas-jelasnya.

Ureteroskopi

            Pengembangan ureteroskopi sejak tahun 1980 an telah mengubah secara dramatis terapi batu ureter. Kombinasi ureteroskopi dengan pemecah batu ultrasound, EHL, laser dan pneumatik telah sukses dalam memecah batu ureter. Juga batu ureter dapat diekstraksi langsung dengan tuntunan URS. Dikembangkannya semirigid URS dan fleksibel URS telah menambah cakupan penggunaan URS untuk terapi batu ureter. Keterbatasan URS adalah tidak bisa untuk ekstraksi langsung batu ureter yang besar, sehingga perlu alat pemecah batu seperti yang disebutkan di atas. Pilihan untuk menggunakan jenis pemecah batu tertentu, tergantung pada pengalaman masing-masing operator dan ketersediaan alat tersebut.

PNL

            PNL yang berkembang sejak dekade 1980 an secara teoritis dapat digunakan sebagai terapi semua batu ureter. Tapi dalam prakteknya sebagian besar telah diambil alih oleh URS dan SWL. Meskipun demikian untuk batu ureter proksimal yang besar dan melekat masih ada tempat untuk PNL.

            Prinsip dari PNL adalah membuat akses ke kalik atau pielum secara perkutan. Kemudian melalui akses tersebut kita masukkan nefroskop rigid atau fleksibel, atau ureteroskop, untuk selanjutnya batu ureter diambil secara utuh atau dipecah dulu. Keuntungan dari PNL, bila batu kelihatan, hampir pasti dapat diambil atau dihancurkan; fragmen dapat diambil semua karena ureter bisa dilihat dengan jelas. Prosesnya berlangsung cepat dan dengan segera dapat diketahui berhasil atau tidak. Kelemahannya adalah PNL perlu keterampilan khusus bagi ahli urologi. Sebagian besar pusat pendidikan lebih banyak menekankan pada URS dan SWL dibanding PNL.

Bedah Terbuka

            Beberapa variasi operasi terbuka untuk batu ureter mungkin masih dilakukan. Tergantung pada anatomi dan posisi batu, ureterolitotomi bisa dilakukan lewat insisi pada flank, dorsal atau anterior. Meskipun demikian dewasa ini operasi terbuka pada batu ureter kurang lebih tinggal 1 -2 persen saja, terutama pada penderita-penderita dengan kelainan anatomi atau ukuran batu ureter yang besar.

Pemasangan Stent

            Meskipun bukan pilihan terapi utama, pemasangan stent ureter terkadang memegang peranan penting sebagai tindakan tambahan dalam penanganan batu ureter. Misalnya pada penderita sepsis yang disertai tanda-tanda obstruksi, pemakaian stent sangat perlu. Juga pada batu ureter yang melekat (impacted).

 

ANALISA KELUARAN

            Berbagai penelitian dilakukan untuk mengetahui hasil dari berbagai modalitas terapi batu ureter. Beberapa indikator keluaran yang sering dipakai adalah : angka bebas batu, jumlah prosedur dan komplikasi.

Angka bebas batu

            Angka ini dipakai untuk menentukan efikasi dari terapi batu ureter. Ini sangat penting pada batu ureter karena adanya fragmen batu yang tertinggal akan tetap memberikan keluhan klinis. Cara yang dipakai untuk menentukan angka bebas batu melalui evaluasi foto polos abdomen setelah tindakan. Khusus untuk pasien yang dilakukan observasi, penentuan angka bebas batu sedikit berbeda karena harus memperhatikan lamanya waktu tunggu, lokasi batu dan ukuran batu.

            Angka bebas batu dari masing-masing modalitas terapi selengkapnya lihat tabel.

Jumlah prosedur tiap pasien

            Mengenai jumlah prosedur tindakan dibedakan primer dan sekunder. Yang dimaksud prosedur primer adalah prosedur yang dipakai pada awal tindakan, sedang  prosedur sekunder adalah prosedur yang dipakai untuk tindakan berikutnya yang berbeda dengan prosedur awal ( primer ). Sehingga jumlah prosedur tindakan pada seseorang pasien bisa beberapa prosedur primer dan beberapa prosedur sekunder atau hanya beberapa prosedur primer saja.

            Tentang jumlah prosedur tindakan dari masing-masing modalitas terapi bisa dilihat di tabel.

Komplikasi

            Dibedakan komplikasi akut dan komplikasi jangka panjang. Komplikasi akut yang sangat diperhatikan oleh penderita adalah kematian, kehilangan ginjal, kebutuhan transfusi dan tambahan intervensi sekunder yang tidak direncanakan. Data kematian, kehilangan ginjal dan kebutuhan transfusi pada tindakan batu ureter memiliki risiko sangat rendah. Komplikasi akut dapat dibagi menjadi yang signifikan dan kurang signifikan. Yang termasuk komplikasi signifikan adalah avulsi ureter, trauma organ pencernaan, sepsis, trauma vaskuler, hidro atau pneumotorak, emboli paru dan urinoma. Sedang yang termasuk kurang signifikan perforasi ureter, hematom perirenal, ileus, stein strasse, infeksi luka operasi, ISK dan migrasi stent.

            Komplikasi jangka panjang adalah striktur ureter. Striktur tidak hanya disebabkan oleh intervensi, tetapi juga dipicu oleh reaksi inflamasi dari batu, terutama yang melekat. Angka kejadian striktur kemungkinan lebih besar dari yang ditemukan karena secara klinis tidak tampak dan sebagian besar penderita tidak dilakukan evaluasi radiografi ( IVP ) pasca operasi.

Posted in Bedah | Leave a comment

Psoriasis

Psoriasis merupakan penyakit kronik rekuren pada kulit dengan gambaran klinis yang bervariasi. Lesi pada kulit biasanya sangat jelas sehingga diagnosis dapat dengan mudah ditegakkan. Jenis lesi pada psoriasis adalah eritroskuamosa atau eritropapuloskuamosa, yang menunjukkan bahwa terdapat keterlibatan vaskuler (eritem) dan epidermis (skuama atau papul). Bercak eritem pada psoriasis berbatas tegas dengan skuama tebal, berlapis, transparan, berwarna putih seperti mika pada daerah predileksi.

Daerah predileksi psoriasis adalah batas rambut kepala, lutut, siku, lumbosakral dan kuku. Namun, secara umum daerah predileksinya adalah di daerah ekstensor yaitu daerah yang mudah terkena trauma.

Epidemiologi

Psoriasis merupakan salah satu peradangan kulit yang sering terjadi dan terdapat di seluruh dunia, prevalensi penyakit ini bervariasi pada setiap negara di dunia, hal ini mungkin dikarenakan adanya faktor ras, geografi dan lingkungan. Prevalensinya mulai dari 0,1% hingga 11,8%.1 Di literatur lain ada yang menyebutkan 1-3% dari penduduk di negara-negara Eropa dan Amerika Utara pernah menderita psoriasis.2 Dan ada lagi literatur yang melaporkan 1,5-3% populasi di Eropa dan Amerika Utara pernah menderita psoriasis dan jarang dijumpai pada Negara Afrika dan Jepang.3 Angka kejadian pada laki-laki dan perempuan sama.3 Insiden pada orang kulit putih lebih tinggi dari pada orang yang memiliki kulit berwarna, kasus psoriasis jarang dilaporkan pada bangsa Indian di Amerika maupun bangsa Afrika.2,4 Karena kebanyakan penderita psoriasis memiliki lesi-lesi yang tak hilang seumur hidupnya, hal ini jelas merupakan masalah.

Sampai sekarang masih belum diketahui mengapa bisa timbul psoriasis. Pada banyak kasus diduga ada faktor genetik berperan, terutama bila penyakit ini mulai diderita sejak usia remaja atau dewasa muda.

Beberapa pemicu yang sudah dikenal dapat menyebabkan timbulnya psoriasis pada mereka yang rentan terkena, yaitu trauma, infeksi, obat-obatan dan bahkan pajanan sinar matahari yang mengenai tubuh secara langsung, lebih dari 20 menit menurut the American Academy of Dermatology (AAD), dapat menjadi pencetus timbulnya psoriasis bagi mereka yang rentan. Beberapa penulis juga menyebutkan bahwa stres dapat mencetuskan timbulnya psoriasis. Namun demikian, belum dipahami secara jelas apa penyebab perubahan tempat-tempat tertentu di kulit menjadi plak psoriasis, sedangkan tempat yang lain tetap normal.

Psoriasis diklasifikasikan sebagai penyakit eritropapuloskuamosa, yang memiliki banyak tipe seperti tipe plaque, guttate, pustular, inverse dan erythrodermik psoriasis.

Pengobatan pada penderita psoriasis sebenarnya dapat dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari terapi topikal, sistemik dan dengan menggunakan penyinaran.1,3 Namun pada tinjauan pestaka ini hanya akan dibahas pengobatan psoriasis secara sistemik.

Etilogi

Penyebab psoriasis sampai sekarang belum diketahui secara pasti, namun faktor genetik diduga sebagai faktor predisposisi terjadinya psoriasis.Sekitar 35% penderita menunjukkan adanya riwayat keluarga, kembar identik bila satunya kena maka yang satunya lagi memiliki peluang untuk terkena 73%. Jika satu orang tua yang menderita psoriasis maka kemungkinan anak akan terkena 25%, tapi jika kedua orang tua menderita psoriasis maka kemungkinan anak yang akan terkena akan meningkat menjadi 60%. Disamping itu, faktor lingkungan diduga menjadi faktor pencetus untuk beberapa individu.

Berikut ini adalah beberapa faktor yang menjadi pencetus munculnya psoriasis pada individu yang berbakat:

  1. 1.     Trauma

Trauma pada epidermis maupun dermis seperti bekas garukan, bekas luka, dll dapat menimbulkan lesi psoriasis pada tempat tersebut (fenomena koebner).

2. Infeksi

Infeksi saluran nafas bagian atas oleh bakteri Streptococcus, merupakan faktor pencetus timbulnya psoriasis, terutama psoriasis gutata.

3. Obat-obatan

Obat-obatan tertentu seperti beta blockers, lithium dan anti malaria dapat memperburuk atau mencetuskan timbulnya proriasis.

4. Sinar matahari

Pajanan sinar matahari secara langsung terutama lebih dari 20 menit dapat memperburuk psoriasis sekitar 10%.

5. Stress

Stress dapat memperburuk psoriasis hingga 30-40%.

Patogenesis

Salah satu teori patogenesis psoriasis menyatakan bahwa penyakit ini melibatkan proliferasi keratinosit dengan peradangan sekunder. Teori ini didukung dengan ditemukannya defek ekspresi sitokin, sinyal intraseluler dan poliamin serta abnormalitas keratinosit lain di lesi psoriasis. Teori lain menyatakan bahwa, psoriasis sebagai akibat dari kerusakan sel-sel radang, sedangkan proliferasi keratinosit yang mencolok merupakan fenomina sekunder. Teori ini didukung oleh bukti bahwa mekanisme imun berperan pada psoriasis.

Secara umum, psoriasis ditandai oleh adanya diferensiasi sel yang abnormal, hiperproliferasi keratinosit dan peradangan. Epideropoiesis yang dipercepat merupakan dasar penting pada pathogenesis psoriasis. Transit rate dari psoriatic keratinosit meningkat dan waktu sintesis deoxyribonucleic acid menurun. Akibatnya terjadi peningkatan produksi keratin.

Gambaran histopatologi psoriasis bervariasi sesuai dengan stadium lesi. Stadium lesi pada psoriasis ada tiga, yaitu lesi awal, lesi perkembangan dan lesi matang. Pada lesi awal terjadi dilatasi kapiler dan edema papilla dermis dengan sebukan sel radang mononuklear di sekitar kapiler. Pada lesi yang berkembang terjadi peningkatan aktivitas metabolik sel-sel epidermal, yang mencakup stratum korneum. Sedangkan pada lesi matang ditandai dengan pemanjangan rete ridges yang merata dengan penipisan epidermis di atas papilla dermal. Pelebaran ruang ekstraseluler diantara keratinosit tetap berlangsung tetapi kurang dominan dibandingkan dengan lesi yang sedang berkembang.

Posted in Kulit | Leave a comment